Posisi Menyusui yang Benar agar Bayi Tidak Gumoh: Bukan Sekadar Cara Menggendong, tetapi Cara Bayi Menelan dengan Nyaman
Pernahkah Bunda mengalami hal ini? Setelah menyusu, si Kecil terlihat tenang dan bahkan tertidur pulas. Namun, beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada sedikit ASI yang keluar dari mulutnya.
Bunda pun mulai khawatir. Apakah ASI yang diminum terlalu banyak? Apakah posisi menyusui kurang tepat? Atau jangan-jangan ada masalah pada pencernaan si Kecil?
Sebenarnya, gumoh ringan merupakan hal yang cukup umum pada bayi. Refluks pada bayi dapat terjadi karena sistem pencernaannya masih berkembang, sementara kapasitas lambungnya juga masih kecil. Pada banyak bayi, gumoh terjadi tanpa disertai rasa sakit atau tanda bayi sakit.
Meski begitu, Bunda tetap dapat membantu menciptakan pengalaman menyusu yang lebih nyaman. Salah satunya dengan memperhatikan posisi menyusui yang benar agar bayi tidak gumoh, mulai dari posisi tubuh, pelekatan atau latch, ritme menyusu, hingga cara memberikan ASI perah (ASIP) menggunakan botol.
Artinya, kenyamanan si Kecil saat menyusu sebenarnya dimulai bahkan sebelum ia mulai mengisap.
Mengapa Bayi Baru Lahir Lebih Mudah Gumoh?
Pada bayi, fungsi saluran pencernaan masih berkembang. Katup yang berada di antara kerongkongan dan lambung belum bekerja seefektif orang dewasa. Ditambah lagi, ukuran lambung bayi masih kecil.
Akibatnya, ketika lambung terlalu penuh atau mendapat tekanan, sebagian isi lambung dapat kembali naik ke kerongkongan dan keluar sebagai gumoh. Perubahan posisi tubuh yang tiba-tiba setelah menyusu juga dapat memicu gumoh.
Gumoh biasanya berupa keluarnya sedikit ASI atau susu dari mulut tanpa usaha muntah yang kuat. Kondisi ini berbeda dengan muntah yang umumnya lebih kuat dan disertai dorongan dari perut. Namun, Bunda perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila gumoh berubah menjadi muntah yang menyemprot, terdapat darah atau cairan berwarna hijau, bayi tampak sangat sakit, sering tersedak hingga kebiruan, atau pertumbuhan berat badannya kurang baik.
Baca juga: Cara Meningkatkan Kualitas ASI: Mulai dari Makanan hingga Kebiasaan Menyusui Sehari-hari
Posisi Menyusui yang Benar Dimulai Sebelum Bayi Mulai Mengisap

Posisi menyusui bukan hanya mengenai bagaimana Bunda menggendong si Kecil. Posisi tubuh yang tepat membantu bayi mengambil payudara dengan lebih baik dan menelan dengan lebih nyaman.
-
Pastikan Kepala, Leher, dan Tubuh Bayi Berada dalam Satu Garis: Usahakan kepala, leher, dan tubuh si Kecil berada dalam posisi sejajar. Hindari posisi ketika kepala menghadap payudara tetapi tubuhnya justru berputar. Leher yang tidak terpuntir membantu bayi menyusu dan menelan dengan lebih mudah.
-
Tubuh Bayi Menghadap ke Tubuh Ibu, Bukan Hanya Kepala yang Menoleh: Dekatkan seluruh tubuh si Kecil ke tubuh Bunda dengan posisi menghadap payudara. Dengan begitu, ia tidak perlu memutar kepala untuk mencapai puting. Bunda juga sebaiknya membawa bayi mendekati payudara, bukan membungkukkan tubuh untuk mendekati bayi. Posisi ini membantu menciptakan pelekatan yang lebih baik sekaligus membuat Bunda lebih nyaman selama menyusui.
-
Posisi Semi Tegak Membantu Aliran Susu Lebih Terkontrol: Posisi semi tegak juga dapat diterapkan ketika memberikan ASIP melalui botol. Dalam posisi ini, wajah dan tubuh bayi lebih mudah diamati sehingga Bunda dapat mengikuti tanda ketika si Kecil membutuhkan jeda. Saat bottle feeding, bayi dianjurkan berada dalam posisi semi tegak dan botol tidak perlu diarahkan terlalu tegak agar aliran susu tidak terlalu cepat.
Latch yang Baik Bukan Hanya Membuat Puting Tidak Lecet, tetapi Juga Membantu Proses Menyusu
Deep latch adalah pelekatan ketika mulut bayi terbuka lebar dan mengambil bagian payudara dengan cukup dalam, bukan hanya ujung puting. Beberapa tanda pelekatan yang baik antara lain mulut terbuka lebar, dagu menyentuh payudara, hidung tetap bebas, dan sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Posisi ini juga membantu mencegah puting menjadi mudah lecet atau nyeri.
Jika bayi hanya melekat pada bagian depan puting, proses mengisap dapat menjadi kurang efektif. Bunda juga mungkin merasakan nyeri selama menyusui. Pelekatan yang kurang optimal dapat membuat proses menyusu menjadi tidak nyaman dan pada beberapa bayi dapat disertai lebih banyak udara yang tertelan. Oleh karena itu, memperhatikan latch merupakan bagian penting dari pengalaman menyusui yang nyaman.
Setelah Menyusu, Jangan Langsung Membaringkan Bayi!
Selama menyusu, bayi dapat menelan udara. Sendawa membantu mengeluarkan sebagian udara tersebut sehingga si Kecil dapat merasa lebih nyaman setelah makan. Tidak semua bayi harus selalu bersendawa setelah setiap sesi menyusu. Bunda dapat melihat respons si Kecil dan mencoba menyendawakannya ketika ia tampak tidak nyaman atau setelah selesai menyusu.
Beberapa posisi sederhana yang dapat dicoba adalah:
-
Di bahu: tegakkan bayi di dada atau bahu Bunda sambil menopang kepala dan lehernya.
-
Duduk di pangkuan: dudukkan bayi dengan tubuh sedikit condong ke depan sambil menopang dagu dan tubuhnya.
-
Tengkurap di lengan: posisikan bayi tengkurap di sepanjang lengan dengan kepala tetap ditopang.
Setelah bottle feeding, bayi dapat dipegang dalam posisi tegak sambil punggungnya dielus atau ditepuk lembut untuk membantu mengeluarkan udara.
Saat Bayi Minum ASIP, Apakah Risiko Gumoh Bisa Dikurangi?
Pemberian ASIP juga membutuhkan perhatian terhadap posisi dan ritme menyusu. Bukan hanya jenis ASI atau susu yang diberikan, tetapi bagaimana si Kecil menerimanya. Oleh karena itu, feeding bottle yang tepat sebaiknya tidak membuat bayi harus beradaptasi dengan aliran susu yang terlalu cepat.
Bunda dapat menerapkan prinsip responsive atau paced feeding dengan memperhatikan tanda lapar, tanda kenyang, serta kebutuhan bayi untuk berhenti sejenak.
Baca juga: Penyebab Bayi Tidak Mau Menyusu pada Ibunya dan Cara Mengatasinya dengan Lembut
Feeding Bottle yang Tepat Membantu Bayi Menyusu dengan Ritme yang Lebih Alami

Botol idealnya mendukung bayi untuk tetap mengontrol ritme minumnya. Saat memberikan ASIP, Bunda dapat menjaga posisi bayi semi tegak dan botol sedikit horizontal sehingga susu tidak mengalir terlalu cepat.
Dengan cara ini, bayi memiliki kesempatan untuk berhenti, beristirahat, dan kembali menyusu sesuai kebutuhannya.
Hegen PCTO™ Feeding Bottle dilengkapi Breast-Like Teat yang dirancang menyerupai pengalaman menyusu langsung pada payudara. Desain ini mendukung pelekatan yang lebih alami dan membantu meminimalkan risiko bingung puting ketika si Kecil menjalani kombinasi direct breastfeeding dan pemberian ASIP.
Selain itu, Hegen juga mendorong pengalaman menyusu dengan posisi semi tegak. Posisi ini membuat Bunda lebih mudah memperhatikan wajah, respons, dan ritme minum si Kecil. Desain teat Hegen juga membantu mendukung posisi minum yang benar dan memungkinkan ASI atau susu diminum hingga tetes terakhir.
Posisi feeding yang nyaman juga dipengaruhi oleh bagaimana Bunda memegang botol. Hegen PCTO™ Feeding Bottle memiliki desain yang ergonomis sehingga dapat digenggam dari berbagai sisi. Hal ini membantu Bunda maupun caregiver mempertahankan posisi botol dengan lebih stabil sambil tetap memperhatikan wajah dan respons si Kecil selama menyusu.
Baca juga: Perbedaan Muntah dan Gumoh pada Bayi yang Sering Disalahartikan Orang Tua
Menyusui yang Nyaman Dimulai dari Cara Bayi Menempel, Menelan, dan Bertumbuh Bersama Orang Tuanya
Mengurangi gumoh bukan hanya tentang menyendawakan bayi setelah menyusu. Prosesnya merupakan rangkaian yang dimulai sejak Bunda memposisikan tubuh si Kecil, memastikan latch yang baik, memperhatikan ritme menyusu, hingga memilih feeding bottle yang mendukung pengalaman minum secara alami.
Hegen hadir untuk mendukung perjalanan Bunda memberikan ASI maupun ASIP dengan lebih praktis dan konsisten. Sebab, ketika proses menyusu terasa lebih nyaman bagi Bunda dan si Kecil, setiap sesi feeding pun dapat menjadi momen kedekatan yang lebih menyenangkan.
Featured Image: Magnific