Bayi Trauma Menyusu? Kenali Breastfeeding Aversion dan Cara Mengembalikan Pengalaman Menyusu yang Nyaman
Momen menyusui seringkali menjadi waktu yang paling dinantikan oleh Bunda. Saat si Kecil berada dalam dekapan, menatap wajah Bunda, lalu menyusu dengan tenang, tercipta ikatan emosional yang begitu hangat. Namun, bagaimana jika suatu hari semua itu berubah?
Awalnya si Kecil menyusu tanpa kendala. Namun belakangan, setiap kali waktu menyusu tiba, ia justru memalingkan wajah, menangis sebelum menyusu, melengkungkan tubuh, bahkan menolak payudara maupun botol susu. Situasi ini tentu membuat Bunda khawatir sekaligus bingung.
Banyak pertanyaan mulai bermunculan. Apakah ASI saya berubah rasanya? Apakah si Kecil sudah tidak lapar? Apakah saya melakukan sesuatu yang salah?
Padahal, penyebabnya belum tentu karena si Kecil tidak ingin minum ASI. Dalam beberapa kasus, bayi justru mulai mengasosiasikan aktivitas menyusu sebagai pengalaman yang tidak nyaman. Kondisi ini dikenal sebagai breastfeeding aversion atau penolakan menyusu akibat pengalaman negatif.
Breastfeeding aversion bukan berarti bayi membenci ASI ataupun tidak menyayangi Bunda. Sebaliknya, kondisi ini menunjukkan bahwa si Kecil membutuhkan pendekatan yang lebih lembut agar kembali merasa aman ketika menyusu.
Kabar baiknya, breastfeeding aversion dapat diatasi apabila penyebabnya dikenali sejak dini dan proses menyusu kembali dibangun menjadi pengalaman yang positif. Dengan memahami kebutuhan bayi serta menggunakan perlengkapan menyusu yang mendukung posisi dan ritme minum alami, Bunda dapat membantu si Kecil menikmati sesi menyusu kembali.
Apa Itu Breastfeeding Aversion pada Bayi?
Breastfeeding aversion adalah kondisi ketika bayi menunjukkan penolakan terhadap proses menyusu karena adanya pengalaman yang membuatnya merasa tidak nyaman, baik secara fisik maupun emosional.
Penting dipahami bahwa kondisi ini bukan berarti bayi membenci ASI. Tapi yang ditolak adalah pengalaman menyusunya, bukan sumber nutrisinya. Misalnya, bayi pernah tersedak karena aliran susu terlalu deras, dipaksa menyusu saat belum siap, atau merasa kesakitan akibat kondisi medis tertentu. Pengalaman tersebut dapat membuat bayi mengingat sesi menyusu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.
Breastfeeding Aversion Bukan Sekadar GTM, Ini Perbedaannya

Sumber: Magnific
Meskipun sama-sama membuat bayi sulit makan atau minum, breastfeeding aversion berbeda dengan GTM maupun nursing strike.
1. Breastfeeding Aversion
Pada kondisi ini, penolakan muncul saat proses menyusu berlangsung. Bayi sebenarnya lapar, tetapi merasa stres atau takut ketika mulai menyusu.
2. GTM (Gerakan Tutup Mulut)
GTM merupakan kondisi yang lebih luas. Tidak hanya menolak menyusu, tetapi juga menolak makan secara umum. Penyebabnya dapat berkaitan dengan fase perkembangan, preferensi makanan, maupun faktor kesehatan.
3. Nursing Strike
Nursing strike adalah kondisi sementara ketika bayi mendadak menolak menyusu, biasanya hanya berlangsung beberapa hari. Penyebabnya bisa berupa perubahan rutinitas, tumbuh gigi, atau gangguan sementara lainnya.
Mengapa Bayi Bisa Trauma Saat Menyusu?
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan breastfeeding aversion.
1. Pengalaman Dipaksa Menyusu Saat Bayi Belum Siap
Tanpa disadari, Bunda mungkin pernah berusaha membuat si Kecil segera minum karena khawatir asupan susunya kurang. Misalnya kepala bayi ditekan ke payudara, dot dimasukkan secara paksa, posisi menyusu terlalu dipaksakan. Padahal, tindakan tersebut justru dapat membuat bayi merasa tidak nyaman.
2. Aliran Susu Terlalu Deras atau Terlalu Lambat
Aliran susu yang terlalu cepat dapat membuat bayi tersedak. Sebaliknya, aliran yang terlalu lambat membuat bayi cepat lelah dan frustrasi saat menghisap. Oleh karena itu, memilih dot dengan aliran yang sesuai usia dan kemampuan bayi menjadi salah satu faktor penting untuk menciptakan pengalaman menyusu yang nyaman.
3. Pengalaman Medis yang Kurang Nyaman
Beberapa kondisi kesehatan juga dapat membuat bayi enggan menyusu, seperti refluks, sariawan, infeksi telinga, tumbuh gigi, atau hidung tersumbat. Dalam kondisi tersebut, menyusu bisa terasa menyakitkan sehingga bayi mulai menghindarinya.
4. Lingkungan Menyusu yang Penuh Tekanan
Suasana sekitar juga memengaruhi kenyamanan bayi. Lingkungan yang terlalu bising, banyak distraksi, atau ketika Bunda merasa panik dan terburu-buru dapat membuat si Kecil ikut merasa tidak tenang.
Tanda-Tanda Bayi Mulai Mengalami Breastfeeding Aversion
Beberapa tanda yang perlu Bunda perhatikan antara lain:
-
Menangis saat melihat botol atau payudara,
-
Menolak membuka mulut,
-
Hanya mau menyusu ketika mengantuk,
-
Mudah marah selama sesi menyusu,
-
Sering melepas dot,
-
Tubuh tampak menegang,
-
Menyusu hanya sebentar lalu berhenti,
-
Melengkungkan badan ketika akan disusui.
Apabila kondisi ini berlangsung berulang dan memengaruhi asupan nutrisi maupun berat badan bayi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi.
Mengapa Pengalaman Menyusu Sangat Mempengaruhi Bonding Bayi?
Bagi bayi, menyusu bukan hanya soal mendapatkan nutrisi. Saat menyusu, si Kecil juga merasakan dekapan Bunda, mendengar suara yang menenangkan, mencium aroma tubuh ibu, serta belajar mengenali rasa aman.
Dalam perkembangan otak bayi, pengalaman positif yang berulang akan membantu membangun rasa percaya terhadap lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, bila setiap sesi menyusu diwarnai rasa takut atau tidak nyaman, bayi dapat mengembangkan asosiasi negatif terhadap aktivitas tersebut.
Oleh karena itu, membangun kembali pengalaman menyusu yang positif menjadi langkah penting, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memperkuat bonding antara Bunda dan si Kecil.
Cara Mengembalikan Pengalaman Menyusu yang Positif
-
Jangan Memaksa Bayi Menghabiskan Susu: Biarkan bayi menentukan kapan ia sudah merasa cukup. Memaksa menghabiskan susu justru dapat meningkatkan stres saat feeding.
-
Ikuti Hunger Cue Bayi: Perhatikan tanda-tanda lapar seperti memasukkan tangan ke mulut, membuka mulut saat pipinya disentuh, atau mulai mencari puting. Jangan menunggu hingga bayi menangis karena saat itu ia sudah terlalu lapar dan lebih sulit ditenangkan.
-
Bangun Rutinitas Feeding yang Tenang: Ciptakan suasana menyusu yang nyaman dengan pencahayaan lembut, suara yang minim gangguan, posisi menyusui ergonomis, kontak mata dan sentuhan hangat.
-
Berikan Waktu Bayi Mengeksplorasi Botol Tanpa Tekanan: Biarkan si Kecil mengenal kembali botol susu secara perlahan tanpa dipaksa langsung minum. Pendekatan yang santai membantu bayi membangun kembali rasa percaya terhadap proses feeding.
-
Gunakan Perlengkapan Feeding yang Mendukung Pengalaman Alami: Perlengkapan menyusu yang dirancang menyerupai pengalaman menyusu langsung dapat membantu bayi beradaptasi lebih nyaman, terutama bila Bunda menjalani kombinasi menyusui langsung dan pemberian ASI perah.
Baca juga: Bayi Tertidur Setelah Minum? Ini Cara Menyendawakan Tanpa Membangunkannya
Mengapa Desain Botol Susu Dapat Mempengaruhi Pengalaman Menyusu?

Botol susu bukan hanya berfungsi sebagai wadah ASI. Desainnya juga berperan dalam menciptakan pengalaman menyusu yang nyaman. Kemudian, dot dengan desain ergonomis membantu bayi mendapatkan perlekatan yang lebih alami sehingga proses menyusu terasa lebih familiar.
Selain itu, aliran susu yang stabil membantu bayi minum sesuai ritmenya tanpa merasa kewalahan ataupun frustrasi. Botol yang nyaman digenggam juga akan memudahkan orang tua memberikan ASI dalam berbagai posisi menyusui sehingga sesi feeding menjadi lebih rileks.
Membantu Bayi Menemukan Kembali Kenyamanan Menyusu Bersama Hegen
Ketika si Kecil sedang belajar kembali menikmati proses menyusu, pemilihan botol yang tepat dapat menjadi salah satu pendukung pengalaman feeding yang lebih positif.
Hegen menghadirkan dot dengan desain Asymmetrical Off-Centre Teat yang dirancang untuk mendukung posisi menyusu yang lebih alami dan tegak. Desain ini membantu perlekatan yang nyaman, mendukung transisi antara menyusu langsung dan menggunakan botol, serta membantu mengurangi rasa asing ketika bayi berpindah dari payudara ke botol.
Selain itu, Hegen juga menyediakan pilihan ukuran teat sesuai tahap perkembangan bayi sehingga aliran susu dapat disesuaikan dengan kemampuan mengisap si Kecil.
Baca juga: Pelekatan Menyusui yang Benar: Kunci agar Bayi Menyusu Lebih Nyaman, Lancar, dan Optimal
Ingat, mengatasi breastfeeding aversion bukanlah tentang membuat si Kecil kembali menyusu secepat mungkin, melainkan membangun kembali rasa aman dalam setiap sesi feeding. Ketika bayi merasa didengar, dihargai ritmenya, dan tidak dipaksa, pengalaman menyusu perlahan dapat kembali menjadi momen penuh kehangatan.
Selain pendekatan yang sabar dan penuh kasih, pemilihan perlengkapan menyusu juga dapat mendukung kenyamanan si Kecil. Hegen menghadirkan ekosistem Express-Store-Feed dengan dot yang dirancang memberikan natural feeding experience, botol ergonomis yang nyaman digunakan, serta pilihan teat dengan aliran susu yang sesuai tahap perkembangan bayi. Dengan dukungan yang tepat, setiap sesi menyusu dapat kembali menjadi momen bonding yang menyenangkan bagi Bunda dan si Kecil.